Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

112 Cara Konsentrasi Shiva I, Bagian 6 dari 7

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Sekarang, nomor empat belas: “Membasuhlah di pusat suara, suara yang terus-menerus,” seperti air terjun atau mungkin pantai. “Atau jika kamu tidak bisa...” karena terkadang sedang di tempat umum, maka kalian tidak bisa melakukan Quan Yin (meditasi Suara batin Surgawi). Maka jika kalian berada di tepi laut, mungkin kalian membasuh diri di dalam suara Alam Semesta, suara alam. Seperti ketika kalian berada di dekat Air Terjun Niagara, lalu kalian berkonsentrasi pada suaranya, sampai kalian menyatu dengan esensi di balik air terjun itu, di balik alam.

Ada kekuatan di balik semua pohon, air, sungai, batu, dan gunung, lalu kalian berkonsentrasi pada kekuatan di balik itu. Dengan mendengarkan suara air terjun dan berkonsentrasi pada kekuatan di baliknya, kalian akan menyatu kembali dengan Kosmos. Atau, jika tidak, jika kalian bisa, lakukanlah Quan Yin (meditasi Suara batin Surgawi). Demikianlah yang dikatakan. Nah, Dia menjelaskannya secara rinci, tapi tak akan saya sampaikan di sini. Kalian sudah tahu, jadi saya tidak perlu memberi tahu kalian bagaimana cara melakukannya. “Atau lakukan Quan Yin (Suara) dan dengarkan Suara dari semua suara.” Kalian sekarang tahu apa itu. Baiklah, saya bisa menunjukkan pada kalian apa yang Dia katakan, tapi jangan biarkan orang lain tahu. Baiklah, lakukan Quan Yin dan dengarkanlah Suara (batin Surgawi) dari semua suara. Sekarang seharusnya sudah sangat jelas bagi kalian seperti air Sungai Nektar. Bukankah begitu? Ya!

Sekarang, nomor lima belas: “Ucapkan sebuah suara,” seperti Lima Nama Suci, “dan lakukan dengan sangat lambat, lambat, diulang perlahan, dan masuklah ke dalam keheningan, yang tanpa suara dan jadilah Dirimu.” Terkadang, kalian ingat, kalian bilang tidak bisa berkonsentrasi, dan kalian merasa terganggu, ini dan itu, dan sebagainya, jadi saya menyarankan kalian mengulang Lima Nama Suci selama beberapa saat, mungkin 15 menit, mungkin setengah jam, mungkin satu jam, dengan suara keras, saat tak ada orang lain di sekitar kalian. Jadi kalian tidak akan mengganggu orang lain serta tidak membocorkan rahasia kalian. Jangan biarkan orang tahu bahwa kalian, saat ini, sedang kesulitan berkonsentrasi sementara mereka berada dalam Semadi Kelima. Jika kalian duduk di bus dan mengucapkan Lima Nama Suci ini sambil mencoba berkonsentrasi dengan alis terangkat, apakah kalian pikir orang-orang tidak akan menempatkan kalian di suatu tempat? Kalian tahu ke mana, kan? Belum lagi kalian mengganggu seluruh penumpang bus, dan mungkin membuat sopirnya gila. Oleh karena itu, hal-hal ini harus kita lakukan sendiri, karena ini urusan pribadi kita. Ketika kita mengalami kesulitan berkonsentrasi, itu masalah pribadi kita. Kita tidak mengganggu telinga orang lain, dan para “Guru Level Kelima atau Keenam” di sekitar kita, seperti mereka. Saya tidak yakin siapa, tapi seperti mereka, misalnya. Baiklah... “tapi kemudian kalian masuk ke keadaan tanpa suara dan menjadi Diri kalian.”

Nomor enam belas… Oh, Tuhan, baru enam belas, dari seratus dua belas, astaga! Saya tidak tahu Dia begitu banyak bicara. Saya tidak tahu Dewa zaman dahulu berbicara sebanyak itu, yang kita sebut “mulut besar” di zaman modern. Saya tak pernah berbicara sebanyak itu. Saya hanya mengajarkan seribu sepuluh, sedangkan Dia mengajarkan begitu banyak. Awalnya, saya bermaksud tidak berbicara di retret ini, karena saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Saya pikir apa pun yang harus saya katakan, sudah saya katakan, jadi kalian harus berlatih. Tidak perlu terus-menerus mendengarkan, tapi terapkanlah apa yang sudah kalian dengar. Itu lebih bermanfaat bagi kalian. Tapi saya merasa tertekan, seolah-olah semua orang duduk di sana dalam keheningan dan terus-menerus mengulang, “Guru, katakanlah sesuatu.” “Guru, berbicaralah!” “Guru, sudah waktunya; waktunya ceramah atau tidak?” Oh, dan saya merasa tekanan yang begitu besar, jadi saya menyerah. Saya menyerah pada kehendak kalian. Saya berkata, oke, kalau begitu saya akan mengatakan sesuatu, dan begitulah akhirnya saya berbicara seperti ini. Lebih sulit untuk diam daripada berbicara kepada kalian. Jadi saya berpikir, oke, sudahlah, berikan mereka sesuatu, kemudian mereka semua akan diam.

Karena kita semua terbiasa mendengarkan, mendengar, jadi kita tidak bisa menerima keheningan. Sangat sulit. Mungkin setelah tiga tahun, kalian akan terbiasa. Tapi saya tidak tahu apa yang kalian lakukan sementara itu, dan saya tidak tahu apa yang saya lakukan sementara itu. Kita berdua mungkin akan saling mengusik, dengan tekanan yang begitu besar. Seperti empat biksu yang bersumpah untuk melakukan retret diam selama tujuh hari. Tapi ketika mereka duduk bersama, tiba-tiba ada seorang biksu yang berbicara, berkata, “Kalian tahu, dalam retret ini, kalian harus ingat, tidak ada dari kita yang boleh berbicara!” Lalu yang kedua berkata, “Mengapa kau berbicara sekarang?” Dan yang ketiga berkata, “Ya Tuhan, kalian berdua melanggar sumpah.” Dan yang keempat berkata, “Aku tidak pernah bilang apa-apa. Aku satu-satunya yang tidak berbicara sama sekali!” Baiklah, saya juga satu-satunya yang tidak pernah berbicara di sini.

Baiklah. Misalkan kalian sedang sulit berkonsentrasi; sekali lagi, kalian bisa memilih huruf apa saja dan coba lakukan proses dari awal hingga penyempurnaan bertahap dari bunyi huruf tersebut, lalu tetaplah terjaga. Mungkin saat kalian sedang tidur dan mencoba membangunkan diri sendiri; itu sangat sulit. Jadi cobalah melakukan sesuatu yang baru, seperti menciptakan huruf, seperti ‘A’ atau ‘Om’ atau sesuatu, dan cobalah untuk melakukannya dari awal sebagai… hanya dalam pikiran kalian, jangan mengganggu tetangga; jika kalian sendirian, kalian bisa. Kemudian ikuti dengan suara awal yang sangat kasar dari huruf itu dengan mengucapkannya dalam pikiran atau dengan keras, kemudian akhirnya diperhalus hingga hening. Pada saat itu kalian akan terjaga, mungkin, atau terbangun. Atau setidaknya terjaga, dari “semadi” kalian.

Nomor tujuh belas: “Saat mendengarkan alat musik senar apa pun, cobalah mendengarkan bunyi pusatnya yang terpadu dan dengan demikian menjadi hadir di mana-mana,” atau setidaknya menjadi satu dengan kehadiran di mana-mana, atau setidaknya ingatlah kemahahadiran. Karena ketika kita pergi ke konser atau ke teater, mungkin sulit untuk berkonsentrasi pada Cahaya (batin Surgawi) kemudian kalian tidak akan melihat apa-apa, jadi kalian harus mendengarkan musiknya. Tetapi kemudian cobalah, sembari mendengarkan musik, cobalah untuk mengingat nada pusat, nada tanpa nada dari semua musik, kemudian pada saat itu, mungkin kalian juga akan memasuki kemahahadiran. Jadi, saat kalian menyaksikan pertunjukan teater yang sedang berlangsung, atau saat mendengarkan musik, kalian tetap terpusat pada diri kalian, dan tidak tersesat dalam kegembiraan yang bersifat sementara dari dunia ini. Capiche? (Ya.) Semoga saya sudah menjelaskannya dengan jelas.

Astaga, dia sangat banyak bicara. Kita baru sampai halaman delapan belas. Oh, saya tak berani membaca lebih jauh. Saya tak berani membalik halamannya. Oh, astaga. Lihat itu? Atau kita bisa melanjutkannya lagi besok malam? Ya, tentu, tentu. Oh, sudah hampir jam sembilan. Syukurlah, syukurlah ada yang menemukan jam. Saya bicara sejak jam setengah delapan, ya? (Ya.) Sudah satu setengah jam. Untuk ukuran saya yang kecil, itu sudah banyak.

Sekarang, nomor delapan belas: Kalian bisa berkonsentrasi atau mengalihkan pikiran kalian dari semua pikiran yang kacau ini dengan “mengucapkan suara secara nyaring, lalu semakin pelan seiring perasaan kalian meresap ke dalam harmoni yang sunyi ini.” Pertama, kalian mengucapkan suara secara nyaring, lalu semakin pelan sampai kalian masuk ke dalam keheningan, dan bersatu dengan Alam Semesta. Itulah cara kalian berkonsentrasi kadang-kadang. Kita bisa berkonsentrasi pada Lima Nama Suci kita dengan cara ini. Tidak perlu mencari di tempat lain. Karena sudah sangat sulit bagi kalian untuk mengingat Lima Nama Suci. Saya pikir kalian tidak perlu menambahkan nama lain atau huruf lain. Itu akan menimbulkan kebingungan lebih lanjut. Jadi, jika kalian ingat, lakukanlah; jika kalian ingat. Jika tidak bisa, tentu saja, ambil apa pun yang terlintas di pikiran kalian saat itu, hentikan dia. Hentikan dia di situ saja dan selesaikan urusan kita, biarkan dia melupakan ke mana dia ingin berkeliaran dan ke mana dia ingin pergi.

Pikiran selalu ingin pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu, di dalam diri kita, jadi kita hentikan dia tepat di tempat kita ingat, lalu berbalik, dan berkonsentrasi. Mungkin pada saat itu, dia sedang memikirkan es krim (vegan). Jadi, jika kalian terus mengikutinya, berikutnya dia akan membawa kalian ke toko es krim (vegan), kemudian akan menghabiskan uang dan waktu kalian untuk es krim (vegan) itu, lagi. Jadi, saat dia memikirkan es krim (vegan), jika kalian sedang bermeditasi atau di rumah dan tidak ingin keluar dalam cuaca dingin untuk membeli es krim (vegan), jika kalian tidak ingin membuang waktu untuk itu, atau jika kalian berkata, “Besok aku pergi ke kota, dan sambil lalu, aku akan memberimu es krim (vegan).” Jadi sekarang ubahlah huruf-huruf es krim (vegan) itu menjadi teriakan keras, lalu ikuti huruf itu hingga suaranya semakin pelan, sampai kalian kembali ke harmoni. Dan begitulah cara kita membalikkan keadaan dan meraih kemenangan atas pikiran yang berkeliaran.

Photo Caption: “TUHAN Menciptakan Alam yang Indah”

Unduh Foto   

Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (6/7)
1
Antara Guru dan Murid
2026-05-12
3113 Tampilan
2
Antara Guru dan Murid
2026-05-13
3021 Tampilan
3
Antara Guru dan Murid
2026-05-14
2584 Tampilan
4
Antara Guru dan Murid
2026-05-15
2432 Tampilan
5
Antara Guru dan Murid
2026-05-16
1869 Tampilan
6
Antara Guru dan Murid
2026-05-17
1416 Tampilan
7
Antara Guru dan Murid
2026-05-18
1239 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Berita Patut Disimak
2026-05-21
7392 Tampilan
Perjalanan Melalui Alam Estetis
2026-05-21
78 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-05-21
143 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-05-20
749 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-05-20
876 Tampilan
36:02
Berita Patut Disimak
2026-05-19
290 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh