Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Oke, sekarang, kita sudah mendengar tentang Syiwa, Dewa Kehancuran dari India. Menurut saya itu adalah kesalahpahaman besar tentang Syiwa Dia bukanlah Dewa Kehancuran, menurut apa yang saya baca, apa yang saya ketahui. Dia mungkin menghancurkan hal-hal negatif dari orang-orang. Dia mungkin akan menghancurkan segala keburukan, yang terkadang menumpuk di dalam diri kita, dan mungkin juga di dalam diri-Nya pada saat itu. Namun bukan untuk menghancurkan segala hal indah di planet ini. Dia bukanlah penghancur kebaikan, kebajikan, dan keindahan. Dia menghancurkan semua yang tak diinginkan, untuk membersihkan planet ini. Ingatlah, semua dewa telah berusaha sangat keras sejak zaman dahulu, tetapi planet kita masih seperti ini.Kecuali Hsihu, saya tidak melihat tempat lain yang lebih indah. Jadi, saya harap kalian mengerti. Sebarkanlah cinta alih-alih sampah. Dan wanita tua yang malang ini, saya harus terus membersihkan untuk orang lain sepanjang waktu. Ya, kita punya cukup banyak sampah yang harus dibersihkan, yang harus disingkirkan, apalagi dengan kedatangan kalian, dan kue-kue (vegan) serta permen (vegan), sayuran, mi (vegan) dan semua bungkus ini. Semua ini harus dibersihkan. Dan sepertinya saya tak pernah punya cukup ruang di sini di Center ini. Mereka selalu berantakan. Ah, itu mengerikan. Dan itu membuat saya sangat lelah, ketika saya terseret ke dalam keberadaan fisik sampah. Dan sangat sulit bagi saya untuk bangkit kembali, dan berbicara tentang hal-hal yang lebih mulia, dan memurnikan, dan lebih penuh cinta. Itulah mengapa saya benci sampah. Dan itulah kenapa saya terus berupaya membersihkannya sepanjang waktu.Tapi terkadang, sifat manusia, sangat, sangat sulit dibersihkan. Dan itulah yang membuat semua Guru melarikan diri ke Himalaya. Bukan setan yang mengejar mereka, tapi sampah umat manusia! Jadi, lihatlah betapa kuatnya sampah itu? Sampah yang terlihat saja sudah begitu menumpuk, apalagi sampah tak terlihat yang suka kita simpan di setiap sudut hati dan bagian tubuh kita. Oke, lupakan saja soal sampah. Sekarang, mari kita bicarakan hal lain yang lebih baik. Semoga saja. Buddha Amitābha, berkatilah saya. Berkatilah saya, berkatilah saya lebih keras, agar saya punya inspirasi, kebijaksanaan, dan keberanian untuk terus hidup di dunia ini, dan melakukan tugas-Mu yang tidak ingin Engkau lakukan. Oke, setuju?Syiwa memiliki pendamping. Saya tidak tahu apa arti “pendamping” bagi kalian? Itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya tidak punya. Mungkin itu teman, atau istri? Tidak, itu bukan istri. Apakah itu istri? (Dia punya pacar.) Pacar? Oh! Ho, ho, ho! Jadi Dia punya satu, nama-Nya Devi. Devi artinya “Dewi”, kan? Benar begitu, di India? Oh, ya, di India mereka punya nama-nama yang indah. Mungkin itu yang harus kita pelajari. Semua nama mereka suci: Devi, Deva… (Krishna.) Purusha, Krishna, Lakṣmanjula… (Parwati.) Hah? (Parwati. Istri Syiwa adalah Parwati.) (Parwati. Istri Syiwa adalah Parwati. Istri-Nya? (Nama istrinya adalah Parwati.) (Parwati.) Parwati. Oh, Parwati. Tapi Dia menamai-Nya Devi, kan? (Dia tinggal di pegunungan. Parwati berarti “gunung”.Tapi Dia memanggil-Nya Devi, mungkin itu gelarnya? (Mungkin begitulah cara mereka saling memanggil.) Ya, terkadang Dia memanggil-Nya “Devi”, dan “Mata Teratai”, dan “yang penuh kasih”, dan “putri manis”. Ya Tuhan, cara Dia berbicara kepada-Nya, saya ingin menikahi-Nya. Sayang sekali Dia sudah tiada. Berbahasa begitu manis dan penuh berkah Surgawi, yang menurut saya seharusnya kita semua belajar untuk saling berbicara seperti itu. Cara Syiwa berbicara kepada kekasih atau istri-Nya sungguh luar biasa. Bahasa seperti itu kini hampir tak pernah kita dengar. Ya, sangat indah. Dia selalu memanggil-Nya dengan sebutan terindah yang bisa kalian bayangkan, dan bicara kepada-Nya dengan suara yang begitu manis dan lembut. Yah, saya bayangkan suaranya pasti lembut, jika Dia memanggil-Nya “putri manis”, “Engkau yang bermata Teratai”. Dia tidak mungkin berkata, “PUTRI MANIS!” Jadi pasti suaranya sangat lembut, romantis, dan penuh kasih sayang. Itulah cara setiap suami seharusnya berbicara kepada kekasihnya. Yah, butuh waktu lama untuk belajar.Sekarang, kita lihat, Syiwa seharusnya adalah Dewa Kehancuran. Tapi, sebenarnya tidak begitu. Seperti yang sudah saya katakan berkali-kali, kita memiliki banyak prasangka terhadap hal-hal baru. Syiwa, mungkin Dia adalah pemimpin spiritual yang sangat liberal pada zaman-Nya, terlalu maju bagi orang-orang di generasi-Nya untuk dipahami, dan terlalu liberal bagi orang-orang India yang konservatif untuk ditoleransi. Jadi, mungkin mereka menyebut-Nya Dewa Kehancuran. Banyak nama buruk juga sayangnya telah dilekatkan kepada Dewa Syiwa. Jadi, hari ini, dengan suasana yang paling penuh hormat dan hati yang penuh respek, saya akan menceritakan kepada kalian cara Syiwa mengajari para murid-Nya, agar kita membersihkan nama buruk yang melekat pada-Nya, selamanya. Kemudian kita akan belajar di masa depan, sekali lagi, untuk menghormati dan berusaha memahami apa pun yang para guru coba ajarkan kepada kita. Apabila itu baik, maka kita pertahankan; dan jika itu buruk, setidaknya kita belajar sesuatu, yaitu bahwa kita tak boleh melakukannya, tidak boleh meniru cara-Nya. Dan menurut pemahaman saya, Syiwa mengajarkan kebaikan, kelembutan, dan keindahan. Jadi nanti kita akan membuktikannya, melalui beberapa bukti yang telah saya cari untuk kalian, dan akan saya sampaikan sejelas-jelasnya, dengan bahasa sehari-hari. Saya tidak dapat mengungkapkannya seindah, seromantis, dan semanis cara Syiwa kepada istri-Nya, atau permaisuri-Nya, tetapi saya akan berusaha sebaik mungkin agar kalian memahami Ajaran Sang Guru Agung.Nah, suatu kali, dalam sebuah pertemuan besar, mungkin seperti ini, istri-Nya, permaisuri-Nya, Devi agung, Mataji, dan apa lagi? “Ratu Agung”. “Matriark” rumah tangga, bertanya kepada Syiwa tentang latihan spiritual. Dia sendiri sudah sangat tercerahkan, dan kurang lebih setercerahkan seperti Syiwa sendiri. Tetapi demi orang-orang lain yang belum cukup bijaksana untuk bahkan mengajukan pertanyaan yang bermakna, agar Sang Guru dapat menginspirasi atau memiliki kesempatan untuk mengajarkan kepada mereka Kebenaran, cita-cita tertinggi dan paling mulia. Maka istri-Nya harus mengajukan pertanyaan demi mereka, bukan karena Dia tidak mengerti. Karena hidup bersama-Nya sepanjang hidup-Nya, Dia pasti mengerti.Maka kini, Dia bertanya kepada-Nya demikian: “Oh, Syiwa! Apa itu jati diri Sejati kita? Apa Alam Semesta yang menakjubkan ini? Apa yang membentuk karma? Apa yang menyusun karma? Siapa yang berada di pusat roda perputaran alam semesta? Apa kehidupan di luar bentuk ini? Berapa banyak orang yang dapat memahami Kebenaran sepenuhnya, melampaui ruang dan waktu, melampaui nama dan definisi?” Wah, itu dingin! “Jadi tolong jelaskan, agar keraguanku sirna.” Yang Dia maksud adalah keraguan orang lain, kan? Saya ingin kalian memahami bahwa Dewi Parwati saat itu telah mencapai pencerahan sepenuhnya, sama seperti suami-Nya. Nah, jika kita membaca kisah-kisah mereka, kita akan tahu. Karena sama seperti kisah istri Kabir, kalian ingat?Keduanya Orang Suci Tercerahkan. Namun sebagai istri Hindu sejati dan Dewi, Tidak akan pernah sekalipun Dia berpikir melangkah di depan suami-Nya dan membiarkan orang-orang tahu betapa hebatnya Dia. Cukup bahwa Suami-Nya yang tercerahkan dan menjadi Guru. Dia tidak peduli untuk menjadi yang kedua, atau yang setara. Semua istri Hindu tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti itu. Mereka sangat rendah hati. Mereka selalu berada di belakang dan melakukan apa pun yang diperintahkan suaminya. Itulah sebabnya sejak zaman kuno kita punya begitu sedikit Guru perempuan. Karena, seperti yang kalian ketahui, sebagian besar literatur suci tentang latihan spiritual terjaga dengan baik dan dihormati di India. Dan banyak Guru agung berasal dari India. Dan banyak Guru agung berasal dari negeri-negeri yang berbeda, namun akar spiritualitas Mereka berasal dari India.Photo Caption: Matahari: “KEDAMAIAN sedang terfokus, Andalah PENCIPTA PERDAMAIAN.”Jawaban Maha Guru Ching Hai: “TUHAN yang menciptakan perdamaian.”(Percakapan nyata)“Foto asli, hanya diperbesar, agar mudah dilihat. Tapi pernahkah anda melihat Matahari dengan pelangi persegi panjang di sekelilingnya?!!!”Matahari: “Anda Makhluk Mulia.” Jawaban Maha Guru Ching Hai: “Terima kasih. Itu karunia TUHAN!”(Percakapan nyata)“Foto tanpa editan, disajikan apa adanya di sini (diperbesar hanya agar gambarnya jelas).Perhatikan bintik-bintik putih di sekeliling Matahari: Itu adalah beberapa kata dari bahasa grafis para Makhluk-Matahari. Semua penampakan dan kata-kata dari Matahari hingga saat ini berasal dari Raja Matahari. Kami merasa sangat terhormat. Terima kasih TUAN.”Foto dan keterangan-foto oleh Maha Guru Ching Hai (vegan) ~ 9 Mei 2026











